Apa di benak anda ketika di sebutkan kata Ampstirdam?

Pasti langsung menuju ke sebuah kota di Negara Belanda, tempat dengan bangunan klasik, tinggi daratannya di bawah permukaan air laut, yang kotanya di belah kanal-kanal yang di lalui kapal kecil. Kincir angin tertanam di beberapa tempat. Kota itu menjadi pusat pemerintahan sebuah negara yang tiga setengah  abad hasil kopi dari nusantara di angkut kesana. Hampir mirip, tapi tidak sama. Kota itu bernama Amsterdam, ibukota Negara Belanda.

Ampstirdam nama rumah kopi itu adalah kependekan dari Ampelgading, Sumbermanjing, Tirtoyudo, Dampit. Keempat kecamatan di Kabupaten Malang itu memang sentra perkebunan kopi yang sudah mendunia. Rumah Kopi Ampstirdam selain menyajikan kopi dari 4 daerah itu juga ada kopi toraja, kopi bali dan kopi daerah lainnya.

Menu unggulan Rumah Kopi Amstirdam adalah Es Kopi Senja . Sajian istimewa yang mengingatkan pada suatu masa yang lampau. Segelas kopi yang di hasilkan dari 6,5 gram kopi Arabica dan 6,5 gram kopi robusta di padukan dengan 30 ml gula merah, 140 ml susu dan beberapa buah es. Manis, asam, asin berpadu dengan gurihnya susu. Sensasi ketika meminumnya seperti balik beberapa tahun ke belakang, saat masih kecil menyusuri perkebunan kopi di Malang Selatan sambil mencecap manisnya gulali. Es kopi senja dibanderol 25 ribu, harga itu sepertinya terbayar lunas dengan kenikmatan sajian kopi.